Orientalis: Antara Semangat Keilmuan dan Kritik Terhadap Al-Quran

Dewasa ini berbagai macam disiplin ilmu semakin berkembang. Hal ini nampaknya sebagai verifiasi atas pandangan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah mati. Berbagai penemuan selalu dapat diaji dan dikritisi secara ilmiah. Tidak terkecuali orientalisme atau studi ketimuran yang menjadi trend kajian sarjana Barat sejak dahulu bahkan hingga saat ini.

Perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa perjalanan orientalisme telah megalami perubahan dari masa ke masa. Meskipun pada beberapa hal mengusung semangat dan spirit yang sama. Orientalisme jika merujuk pada pandangan Nurcholish Madjid adalah:

Scholarly knowledge of eastern cultures, languages, and people”  (Pengetahuan akademis tentang budaya, bahasa, dan bangsa-bangsa Timur) (Tabloid Tekad Edisi 4).

Pada perkembangannya nampaknya objek ketimuran ini mengerucut pada bahasan-bahasan tentang islam. Realita kajian-kajian Orientalis ahir-akhir ini yang lebih berfokus pada wacana keislaman mungkin bisa dipahami sebagai penyempitan definisi – dalam hal objek kajian – sehingga menjadi sebuah pergeseran dalam studi ketimuran.

Berbagai kajian dilakukan oleh para orientalis terhadap islam dan al-Qur’an, mereka berusaha mengkaji islam dan al-Qur’an dengan membawa apa yang mereka katakan sebagai semangat akademik atau ilmiah. Meskipun pada sisi lain dipengaruhi oleh prasangka, subyektifitas, budaya dan intelektual Barat. Sehingga perlu ada pandangan dikotomis terlbih dahulu, bahwa dari kalangan orientalis ada kalangan yang moderat, adil dalam menilai. Artinya tidak semua Orientalis mengkaji islam atas dasar kebencian (Muhammad Anwar Hamid Isa, 1989).

Banyak kalangan orientalis yang meragukan dan gelisah akan kesejarahan al-Qur’an. Lontaran pertanyaan-pertanyaan yang mengenai fondasi atau bangunan islam dilayangkan oleh mereka. Misalnya apakah al-Qur’an sepanjang perjalanan kesejarahannya terjaga dari intervensi luar? Hal ini tentu menjadi sesuatu yang mencoba membongkar kesakralan al-Qur’an. Karena dalam klaim normatif umat islam otentisitas al-Qur’an sesuatu yang tidak diragukan.

Beberapa Kegelisahan Orientalis Terhadap Al-Quran

Fadl Hasan ‘Abbas dalam Qaḍāyā Qur`āniyyah fî al-Mawsū’ah al-Brītāniyyah mengenai kegelisahan-kegelisahan orientalis menyederhanakannya menjadi empat poin besar- yang kemudian poin tersebut dalam penelusran sejarah al-Qur’an menjadi karakter sentral motodolgi Orientalis – sebagai berikut:

Pertama: susunan al-Qur’an. Ini berhubungan dengan penyusunan al-Qur’an atau masa kodifikasi al-Qur’an. Kedua: sumber-sumber al-Qur’an. ini mengenai asal-usul al-Qur’an. Ketiga: kandungan atau substansi al-Qur’an. Empat: bacaan (qira’at) dalam al-Qur’an

Kalangan orientalis nampaknya pandangan mereka akan keraguan otentisitas al-Qur’an begitu mengakar pada diri mereka. Tentu kita bisa memahami hal ini mengapa mereka bersemangat dalam hal ini. Mereka masih minim informasi akan hal itu. Di sisi lain karena mereka merasa percaya diri karena telah berhasil membongkar sejarah Taurat dan Injil – di samping hal-hal yang berdasar ideologis dan politis.

Semangat Keilmuan Orientalis

Pandangan-pandangan orientalis memang banyak yang kontra dengan dogma dan sakralitas yang ada dalam islam. Namun tidak sedikit juga orientalis yang dalam pengkajian islam dan al-Qur’an bisa lebih adil terhadap islam – tanpa mengabaikan kaidah akademik – dan moderat.

Hemat penulis, fenomena kajian studi islam oleh sarjana Barat atau orientalis tidak bisa dipandang sebagai penyerangan terhadap islam semata. Perlu memandang dari sudut lain yang lebih produktif. Kajian yang mereka lakukan terlepas hasilnya mengaduk-ngaduk dogma ajaran yang ada dalam islam, patut diapresiasi. Karena jika melihat hasil mutualisnya, telah banyak inovasi-inovasi ilmiah dari kalangan orientalis —yang tanpa disadari— telah turut membantu eksistensi ajaran Islam selama ini.

Kesimpulan yang mereka hasilkan dari penelitian tidaklah bisa dijadikan sebagai standar ilmiah dan juga sesuatu yang tidak bisa dibantah. Setiap penemuan pasti criticabble. Banyak sarjana muslim yang mengkritik pemikiran orientalis. Meski pada variannya ada yang aplogetis dan emosional. Ada juga yang lebih argumentatif, rasional, konsisten dan obyektif. Ini menandakan sebagai semangat keilmuan sarjana muslim masih hidup.

Akan lain ceritanya ketika fenomena studi islam yang dilakukan oleh orientalis disikapi dengan rasa sentimental bukan secara keilmuan. Tentu menjadi potret betapa tidak berkembangnya khazanah keilmuan yang dilakukan oleh kaum (lebih jauh sarjana) Muslim dan tidak adanya semangat intelektual pada diri kaum muslim. Akan menjadi sesuatu yang menguntungkan orientalis apabila hal tersebut terjadi.

Di samping hal itu, terdapat perbedaan yang mendasar dan menjadi keunggulan tersendiri bagi kaum muslim ketika melakukan kajian keilmuan. Sarjana Barat atau orientalis dalam memperlakukan data sebagai barang jadi. Tanpa menelusuri data tersebut apakah bersumber dari orang terpercaya atau tidak.

Sedangkan sarjana muslim, dalam memperlakukan data sebagai barang mentah. Menelusuri terlebih dahulu validitas suatu sebelum dianalisa. Dalam melakukan kajian, orientalis hanya melakukan kritik teks. Sedangkan kaum muslim melakukan kritik teks dan jalur tranmisinya (sanad).

Allah Menjaga Otentisitas Al-Quran

Di akhir penulis ingin menyampaikan bahwa betapapun orientalis meragukan islam dan al-Qur’an. Allah Swt telah menjawab secara tegas dalam al-Qur’an:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ -١٩-

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imron: 19).

 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ -٩-

Sesungguhnya Kami-lah yang Menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang Memeliharanya.**Dan sungguh, Kami telah Mengutus (beberapa rasul) sebelum engkau (Muhammad) kepada umat-umat terdahulu. (QS. al-Hijr: 9)

Wallahu A’lam Bi al-Showab

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Contact Us

Give us a call or fill in the form below and we will contact you. We endeavor to answer all inquiries within 24 hours on business days.