Penjelasan Al-Quran tentang Burung Ababil Vs Pasukan Bergajah

Menyikapi berseliwerannya tulisan terkait pertandingan final Piala AFF Suzuki Cup 2020, yang mempertemukan Timnas Indonesia kontra Thailand. Yang notabenya merupakan laga yang digadang-gadang cukup krusial antara kedua negara. Hal tersebut terlihat dari pesan Whatsapp yang diterima penulis sendiri melalui grup Whatsapp. Di dalamnya menyebut gelaran pertandingan tersebut layaknya Burung Ababil kontra pasukan bergajah.

Tentu, hal tersebut merupakan anatomi yang bisa dibilang sah-sah saja. Kendati memang kedua negara memilki lambang tersendiri. Sebut saja, Indonesia dengan Burung Garudanya, dan Thailand dengan Gajah putih yang menjadi lambang kehormatan negara tersebut. Terlepas dari hal tersebut di atas, berikut uraian ringkas mengenai kisah Burung Ababil kontra pasukan Bergajah yang diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an, sebagai berikut:

Kisah Burung Ababil Dalam Al-Qur’an

Menurut Mujahid أَبَابِيْل (ababil) artinya beriring-iringan dan berkelompok (mutatabi’atan mujtami’atan). Sementara itu, Ibnu Al-Yazidi ababil yaitu kumpulan yang terdiri secara terpisah-pisah (jamaa’ah fii tafriiqiyah). Contohnya: جَاءَتِ الْخَيْلُ أَبَابِيْلَ زُمَرًا مِنْ كُلِّ نَاحِيَةٍ  (Masduha dalam Buku Pintar Memahami Kata Dalam Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017, hlm. 6). Sementara itu, dalam kamus Mahmud Yunus ababil bermakna bergolong-golongan. (Mahmud Yunus, dalam Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidayakarya Agung, 1990, hlm. 32)

Untuk mengetahui lebih spesifik akan makna ababil penulis mencoba menelisiknya melalui tafsir Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitabnya Tafsir Jalalain. Berikut penjelasannya:

وارسل عليهم طيرا ابابيل (جماعات جماعات قيل لا واحد له كأساطير وقيل واحدة أبول او إبيل كعجول و مفتاح وسكّين) تفسير الجلالين

Allah SWT mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong (yang bergelombang secara berturut-turut). Menurut suatu pendapat bahwasanya ababil ini tidak ada bentuk mufradnya, sama halnya dengan lafadz assahaatir. Menurut pendapat yang lain, bahwasanya bentuk tunggalnya abuul atau ibaal atau ibbiil yang wazanya serupa dengan ajuul, miftah, dan sikkiin. (Jalaluddin Al-Mahalli, dalam Tafsir Jalalain, hlm. 271)

Dalam Islam do’a seringkali didentikan sebagai senjata. Sebagaimana sering para penceramah menyampaikan bahwa do’a merupakan senjata orang yang beriman. Menilik dari do’a yang dijadikan senjata orang yang beriman. Penulis dalam hal ini mengajak para pembaca untuk kiranya sedikit menoleh ke belakang, yaitu peristiwa yang diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an dalam Surah al-Fiil.

Al-Fiil sendiri bermakna gajah dan dalam kitab I’lamun Nubuwwah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, yaitu 50 hari pasca kejadian bersejarah hancurnya tentara bergajah tersebut. Maka masyhurlah tahun tersebut dengan tahun gajah. (Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, hlm. 8117). Sementara itu, gajah tersebut diberi nama oleh Abrahah dengan Mahmud

Detik-Detik Penyerangan Pasukan Bergajah

Berkaca dari peristiwa tersebut, terlihat bagaimana sosok Abdul Muthalib beserta para pemuka Quraisy bermunajat kepada Tuhan sebelum tentara-tentara Abrahah menghancurkan Ka’bah keesokan harinya. Di mana kala itu Abdul Mutahlib bermunajat sembari memegang gelang pintu Ka’bah, seraya bermohon:

يَا رَبِّ لاَ اَرْجُوْ لَهُمْ سِوَاكَ  يَارَبِّ فَامْنَعْ مِنْهُمْ حِمَاكَ

إِنَّ عَدُوَّالْبَيْتِ مَنْ عَادَاكَ  اِنَّهُمْ لَنْ يَقْهَرُوْ قُوَاكَ

’Ya Tuhanku, tidak ada yang aku harap selain engkau

Ya Tuhanku, Tahanlah mereka dengan benteng engkau

Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh engkau

Mereka tidak akan mampu menaklukkan kekuatan engkau’’. (H. 8115)

Pasca memunajatkan do’a kepada Tuhan, sosok Abdul Muthalib dan para pemuka Quraisy pun beranjak menuju lereng-lereng bukit. Di sanalah mereka berkumpul untuk menunggu kedatangan Abrahah dan bala tentaranya. Sementara itu, Abrahah bergegas menuju Makkah bersama gajah yang telah dipersiapkanya.

Kendati demikian, seorang pemandu perjalanan bernama Nufail bin Habib merapat ke telinga gajah. Seraya berbisik dengan lemah lembut: ‘’Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud (nama gajah) Lebih cerdik lagi baiknya engkau pergi kembali ke negeri asalmu Yaman, karena sekarang engkau hendak dikerahkan menuju Baladillah Al-haram(tanah Allah SWT yang suci lagi bertuah). (H. 8115)

Pasca bisikan yang diucapkan Nufail Bin Habib kepada gajah-gajah tersebut. Gejala kekacauan nampak dari gajah-gajah tersebut yang cenderung kembali terungkup karena enggan menuju Ka’bah. Namun, sontak berdiri serta berlarian kencang sesaat diperintahkan menuju Syam ataupun Yaman. Dalam keadaan yang demikian semerautnya. Demikian uraian Ibnu Hisyam dalam Sirahnya sebagaimana dikutip dalam Tafsir al-Azhar.

Turunnya Burung Ababil

Lantas, nampaklah beribu-ribu ekor burung (ababil) dari jurusan laut menghampiri Abrahah dan bala tentaranya. Beribu-ribu ekor burung tersebut membawa tiga butir batu, sebutir dimulutnya, dua butir lainya berada digenggaman kedua kakinya. Sontak, dijatuhkanlah batu-batu tersebut dari atas bala tentara tersebut. Sehingga suara gemuruh teriakan kesakitanpun terdengar saking panasnya. Batu-batu kecil yang membakar mereka lebih banyak yang tepat mengenai sasaran.(H. 8116)

Nufail bin Habib pun diminta untuk memandu kembali menuju arah jalan pulang menuju Yaman. Namun, alih-alih memandu perjalanan menuju Yaman, sosok Naufal bin Habibpun justru bersyair:

أَيْنَ الْمَفَرُّ وَاْلإِلهُ الطَّالِبُ  وَالأَشْرَمُ الْمَغْلُوْبُ لَيْسَ الْغَالِبْ

‘’Kemana akan lari, Allah SWT lah yang mengejar, Asyram (abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang’’.

Abrahah sebagai pelopor gerakan konfrontasi penghancuran Ka’bah tersebut, tak lepas dari lontaran batu, dan keadaanyapun kian memburuk. Kendati berhasil menaiki gajah menuju Yaman. Terbukti di tengah perjalanan terkelupaslah kulitnya serta berguguran pula dagingnya. Sehingga sesampainya di negeri Yaman, boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap, Abrahah berakhir dengan mati dalam kehancuran. (H. 8116)

Dalam hal ini, Muhammad Hasby Ashidiqie dalam tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur, mengutip apa yang pernah disampaikan Muhammad Abduh. Bahwa Abrahah yang bermaksud membumihanguskan Ka’bah dihadapkan oleh Allah SWT kepada binatang yang membawa kuman penyakit cacar. Sehingga Abrahah dan bala tentaranya tewas sebelum memasuki Ka’bah.

Kejadian tersebut merupakan sebuah nikmat yang dianugerahkan Allah SWT kepada penduduk al-Haram untuk memelihara Ka’bah hingga pada Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW. Yaitu untuk melindungi serta menjaga bangunan tempat ibadah itu dengan power (kekuatan) agama. (Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur, 2000, h. 4702

Wallahu A’lam

Penyunting: Bukhari

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Contact Us

Give us a call or fill in the form below and we will contact you. We endeavor to answer all inquiries within 24 hours on business days.