Tafsir Al-Hasyr Ayat 21-22: Peringatan Agar Menggunakan Akal

Manusia merupakan makhluk Allah paling sempurna karena diberi suatu kemampuan luarbiasa dengan akal. Berbeda dengan makhluk lainnya yang hanya diberi hawa nafsu, sehingga inilah yang merupakan perbedaan signifikan antara manusia dengan makhluk lainnya.

Namun bagaimana jika makhluk ciptaan Tuhan diberi akal yang serupa seperti manusia? Dalam al-Qur’an diberikan perumpamaan menyindir atas perbuatan manusia yang tidak menggunakan akal dan hanya terjerumus dalam hawa nafsu semata.

Pada tulisan ini penulis akan menjelaskan mengenai perumpamaan yang dimaksud. Kemudian menafsirkan ayat dengan penafsiran az-Zamakhsyari yang terkenal akan keindahan balaghahnya dalam menafsirkan al-Qur’an.

Q.S Al-Hasyr Ayat 21 dan 22

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir”. (Q.S al-Hasyr : 21)

Dalam ayat ini dijelaskan jika seandainya gunung-gunung itu diberi akal dan perasaan seperti manusia. Dan kemudian diturunkan al-Qur’an kepada gunung tersebut, maka ia akan tunduk kepada Allah hingga hancur lebur. arena saking takutnya kepada Allah.

Pada ayat ini terdapat metafora yang indah. Allah membandingkan antara gunung yang begitu kuat, tinggi dan besar dengan manusia yang hanya kecil, lemah, dan jauh lebih pendek dari gunung.

Ini menunjukkan bahwa sekelas gunung yang baru diberi akal saja bisa tunduk hingga hancur lebur. Karena saking takutnya kepada Allah. Lantas bagaimana dengan manusia yang merupakan makhluk paling sempurna? Namun dengan sombongnya tidak menjalankan apa yang diperintahkan dan malah melakukan hal-hal yang dilarang.

Perintah Menggunakan Akal Pikiran

Disamping itu pada ayat ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa apabila kita menggunakan akal pikiran dan perasaan sebagaimana dengan mestinya, maka manusia akan tunduk dan takut melihat kekuasaan dan keagungan yang hanya dimiliki oleh Allah.Baca Juga  Dapatkah Manusia Melihat Tuhan?

Penulis analogikan seperti karyawan yang bekerja di suatu perusahaan bosnya. Jika karyawan tersebut menggunakan akal dan pikirannya dalam bekerja, maka ia akan bekerja sesuai dengan perintah atasannya agar mendapatkan gaji yang sesuai. Namun sebaliknya, jika karyawan tersebut tidak menggunakan akal pikirannya, tentu ia tidak memikirkan apa konsekuensi yang ia dapatkan jika tidak bekerja dengan baik, ia akan mengikuti hawa nafsunya untuk bolos bekerja dan lain sebagainya.

Maka jelas dengan watak manusia yang seperti itu, Allah menurunkan ayat ini sebagai peringatan bagi manusia yang tidak menggunakan akal pikiran dan hanya terpengaruh dengan hawa nafsu serta kesenangan dunia, cepat atau lambat ia akan candu dengan nafsu tersebut sehingga sangat berpotensi menutup akal dan pikiran mereka sendiri.

Kemudian pada ayat yang selanjutnya lebih menjelaskan mengenai kekuasaan Allah yang mengetahui segala sesuatu baik itu hal yang ghaib maupun yang nyata.

Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S al-Hasyr:22)

Pada ayat ini, Allah menjadi satu-satunya Tuhan, tidak ada satupun Tuhan selain Dia. Maka jika kita menggunakan akal dalam memahami ayat ini, tidak ada namanya Tuhan yang malah menyerupai manusia, maupun makhluknya.

Maka ketika manusia menyembah pohon keramat, patung, bahkan sapi yang merupakan ciptaan dan makhluk Allah, selain perbuatannya yang digolongkan sesat, akalnya pun juga sama sesatnya. Karena tidak bisa membedakan hal yang sederhana antara Tuhan Yang Maha Esa dengan ciptaan-Nya.

Tafsir Al-Kasyyaf Pada Surah Al-Hasyr Ayat 21-22

Dalam penafsiran Az-Zamakhsyari menyebut ayat 21 dari Al-Hasyr tersebut sebagai tamtsil dengan tujuan menjelaskan tentang manusia ke beberapa sifat:Baca Juga  Meninjau Kajian Orientalis dalam mengkaji Al-Quran dan Hadis

Pertama, mensifati hati manusia itu keras. Keras dalam artian tidak dalam hal fisik melainkan secara batin. Ketika manusia hanya berpikir untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, maka ia akan sulit untuk menerima hidayah yang datang kepadanya. Sehingga hatinya pun tertutup dan terjebak pada ranah kemaksiatan. Ini menunjukkan bahwa akal sehatnya sudah terjerumus kedalam hawa nafsu semata.

Kedua, apabila ia membaca al-Qur’an manusia kurang khusyu’, kurang meresapi dan mendalami ancaman maupun larangan Allah SWT  (Zamakhsyari, 2009. hal,1097)

Disisi lain mengenai Tamtsil yang disebutkan pada ayat di atas, persis dengan yang dijelaskan dalam Q.S al-Ahzab ayat 72

“Sesungguhnya Kami telahmengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”

Amanah dalam tafsir al-Kassyaf adalah bentuk ketaatan dan besarnya tanggung jawab yang harus dilaksankan guna menjalankan perintah Allah. Dalam ayat tersebut dijelaskan sebab langit, bumi dan gunung-gunung menolak amanat tersebut adalah karena mereka benda mati yang tidak mempunyai kemampuan menjalankan perintah Allah. maksudnya adalah mereka sadar akan keterbatasannya. Sedangkan manusia menerima amanat tersebut karena manusia mempunyai akal, yang mampu mengemban amanat tersebut.

Kemudian pada ayat selanjutnya Zamakhsyari menafsirkan dari Kata al-ghaib pada ayat 22, berarti segala sesuatu yang tak tampak di pandangan dari alam raya ini, sedangkan al-syahādah berarti sebaliknya, yakni segala yang tampak dan tertangkap oleh pandangan. Ada juga mufassir yang mengartikan al-gaib dengan akhirat dan al-syahādah dengan dunia. Serta ada juga yang mengartikan al-gaib dengan rahasia dan al-syahādah dengan terang-terangan.Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 30: Malaikat dan Khalifah (2)

Penyunting: Bukhari

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Contact Us

Give us a call or fill in the form below and we will contact you. We endeavor to answer all inquiries within 24 hours on business days.